Ko Resign?

resign

“Mbak apa gak sayang setelah 10 tahun bekerja lalu mengambil keputusan resign? Keuangan keluarga nanti bagaimana? Biaya ini itu bagaimana? ” mungkin itulah pertanyaan yang sering saya dapat dari beberapa orang setelah saya memutuskan resign. Ketahuilah memang tidak mudah ketika kita harus MEMILIH, seperti saya harus memilih resign/ berhenti berkarir lebih tepatnya kerja sama orang lain.

Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan tentu timbul keraguan bahkan terkadang berharap pilihan itu tidak ada, akan tetapi didalam kehidupan pasti selalu ada pilihan yang memang harus kita pilih.

Alasan kenapa saya memilih resign

1. Memiliki kebebasan waktu terutama dangan ANAK
2. Mematuhi suami

1. Anak
Ingin lebih dekat dengan anak, tidak mau melakukan kesalahan untuk yang ke 2 dimana saya melewatan golden age anak pertama, semua ibu pasti akan merasakan penyesalan ketika melewati masa2 emas tumbuh kembang anak.

2. Mematuhi suami
Selama suami memerintahkan suatu kebenaran kenapa tidak saya patuhi, beliau menginginkan saya agar di rumah mengurus anak, mengurus rumah tangga (menurut saya ini justru jabatan yang paling mulia dibandikan dg masa jabatan saya sebagai karyawan)

“Trus mbak gak sayang tuh penghasilannya jd berkurang, kan enak kerja punya uang sendiri, bebas beli ini itu? ”
Kunci kekuatan hati itu ketika kita ingat kepada sang pencipta, yang maha segalanya, saya berkeyakinan Allah maha kaya, kita minta apapun Allah akan beri, tentu ketika saya resign saya akan merubah kebiasaan pola hidup saya, saya harus bisa mengelola keuangan yg pada saat itu hanya suami yg kerja, bagaimana caranya harus cukup sampai gajian bulan berikutnya.

Bulan pertama berat memang pengeluaran harus saya tekan, dan bingung memilah mana sebagai prioritas, hal itu berlanjut sampai bulan ke 3, allhamdullilah kebutuhan terpenuhi.

Ada satu hal yg membuat saya gundah, karena saya yang terbiasa dengan adanya rutinitas kegiatan selain mengurus rumah, saya tidak bisa hanya diam setelah urusan logistik rumah selesai rasanya jenuh, lalu saya coba diskusi dg suami, orang tua, teman2, bagaimana agar saya bisa berkegiatan dan syukur2 bisa menghasilkan uang, tanpa harus saya meninggalkan anak dalam waktu seharian, usaha apa?, modal dari mana?

Beruntunglah mempunyai orang tua yg berprofesi sebagai pedangang, sharing2 sampai akhirnya saya mencoba terjun sebagai seorang wirausaha/pedagang, jualan kecil2 lan di SD. Dulu sempat berfikir jika saya memulai usaha itu harus punya modal yang BESAR lalu usaha apa yg harus saya tekuni? Setelah saya terjun ke dalam bidang penjualan ternyata modal utama untuk menjadi seorang wirausahawan itu adalah KEMAUAN yang besar bukan MODAL besar.

8 bulan kemudian suami memutuskan untuk menyusul resign, woooow keputusan yang sangat besar, bagaimana tidak, suami menafkahi keluarga hasil dari bekerja, darimana menafkahi keluarga jika sudah tidak bekerja? Kenapa harus resign? Ternyata suami saya tertarik menjadi seorang wirausahawan, alasannya setelah di hitung dengan cermat hasil yang diperoleh dari jualan itu lebih banyak daripada bekerja, misalnya memiliki kebebasan waktu (sama dg alasan saya pada poin 1 diatas) beban pengeluaran makin berkurang.

“Lalu usaha apa yang ditekuni? Produk apa yg di jual?” kami mencoba mengembangkan dagangan yang saya jalankan sebelumnya yang semula hanya kecil-kecilan, suami menambahkan 1 produk makanan /jajanan yang tadinya saya hanya menyediakan cilok, sekarang ditambah dengan martabak telur mini kulit lumpia.

“apakah ada rasa malu/gengsi ketika berjualan?” memang ketika kita terjun pada satu hal baru pasti ada rasa canggung, kalau masalah malu/gengsi kenapa harus malu, toh yang kami lakukan suatu hal yg baik (halal).

Hal terpenting untuk menjadi seorang wirausahawan selain kemauan yang besar juga dibutuhkan mental yang sangat kuat, percuma jika memiliki modal besar tetapi kemuan dan mental yang kuat.

Mencari nafkah/rejeki dapat darimana saja dan berbagai cara baik (halal). Allhamdullilah sekarang kami memilih menjadi seorang wirausahawan.

Tinggalkan Balasan